Articles by "BUDIDAYA"

Tampilkan postingan dengan label BUDIDAYA. Tampilkan semua postingan

BUDIDAYA IKAN BAUNG

Selamat sore menjelang malam sahabat
Barusan tadi saya ketemu salah seorang yang kebetulan pulang hhabisa mancing Ikan tiba2 ia bercerita soal hasil pancingannya dan secara panjang lebar akhirnya cerita soal Ikan Baung, Ia berencana ingin melakukan Budidaya Ikan Baung tersebut. Oleh karena itu saya teringat soal ikan baung maka munpung ada kesempatan yg baik ini saya akan membahas soal ikan baung siapa tahu dapat memberi manfaat melalui postingan di Blog saya ini.

Baiklah sahabat yang saya cintai kita lanjutkan soal Ikan baung ini Oke.
Dalam rangka peningkatan taraf hidup masyarakat, khususnya petani/nelayan, kegiatan budi daya ikan merupakan salah satu alternatif yang dapat ditempuh. Kegiatan budi daya beberapa jenis ikan, seperti ikan mas, nila, mujair, gurame, lele, dan patin sudah umum dikembangkan di masyarakat.

Salah satu jenis ikan yang sangat potensial untuk dibudidayakan adalah ikan baung. Ikan baung adalah sejenis lele (catfish) yang hidup di perairan umum, seperti sungai (dari hulu sampai ke muara) dan danau. Di Indonesia, ikan baung cukup populer dan amat digemari oleh konsumen, khususnya di Sumatra dan Kalimantankarena berdaging tebal dan memiliki rasa yang khas.

Usaha budi daya ikan baung tentu saja membutuhkan benih yang cukup dan bermutu. Ketersediaan benih yang cukup, selain untuk keperluan budi daya, dapat juga untuk cadangan benih di perairan umum, sehingga keberadaan ikan tersebut tetap lestari. Untuk itu, periLu diupayakan usaha pembenihan antara lain melalui teknik pemijahan ikan dengan sistem rangsang hormon.

Sub-Balai Penelitian Perikanan Air Tawar (BEAT) Palembang telah mencoba memijahkan ikan baung secara buatan sejak tahun 1983 yang dilanjutkan pada tahun 1991. Tahun 1999 BBAT Sukabumi dan BBI Rumbai (Riau) juga telah berhasil memijahkan ikan baung dengan rata-rata produksi 20.000 - 40.000 benih setiap pemijahan. Hasil ini menunjukan adanya titik terang yang dapat diterapkan oleh para petani ikan secara luas.

Kegiatan pembesaran ikan baung di karamba, terutama di Sumatra, Semenanjung Malaysia, dan Kalimantan, telah mulai dikembangkan. Hasil benih dari pembenihan buatan tersebut temyata belum juga memenuhi kebutuhan, sehingga sebagian benih ditangkap di alam yang kemudian diadaptasi dan dibudidayakan di karamba. Usaha pembenihan dan pembesaran ikan baung masih mengalami berbagai kendala, sehingga informasi tentang teknologi budi daya sangat diperlukan.

Sahabatku semua.....
Di Indonesia terdapat 9 famili ikan lele yang terdiri atas 142 spesies ikan. Tujuh famili di antaranya mempakan kelompok famili ikan yang hidup di air tawar, yaitu Aridae, Bagridae, Clariidae, Doiichthydae, Silluridae, dan Sisoridae.

Secara Taksonomi Ikan baung diklasifikasikan ke dalam Phylum Chordata, Kelas Pisces, Sub-kelas Teleostei, Ordo Ostariophysi, Sub-ordo Siluroidea, Famili Bagridae, Genus Macrones, dan Spesies Macrones nemurus CV. (Saanin, 1968). Menurut Imaki et al. (1978), ikan baung dimasukkan dalam Genus Mystus dengan spesies Mystus nemurus CV.

Sinonim Mystus nemurus adalah Bagrus nemurus CV., Bagrus hoevenii Blkr., Bagrus sieboldi Bikr., Hemibagrus nemurus Bikr., Macrones nemurus Gunther., Macrones bleekeri Volza., Macrones howony Popla., dan Macrones borga Popla (Weber and de Beaufort, 1965).

Di daerah Karawang, ikan baung dikenal dengan nama ikan tagih atau senggal, sedangkan di Jakarta dan Malaysia dikenal sebagai ikan bawon, senggal, singgah, dan singah (Sunda/Jawa Barat); tageh (Jawa); boon (Serawak); niken, siken, tiken, tiken-bato, baungputih, dan kendinya (Kalimantan Tengah); baong (Sumatra) (Weber and de Beaufort, 1965; Djajadiredja et al., 1977).

Sedangkan secara Morfologis Ikan baung mempunyai bentuk tubuh panjang, licin, dan tidak bersisik, kepalanya kasar dan depres dengan tiga pasang sungut di sekeliling mulut dan sepasang di lubang pemafasan; sedangkan panjang sungut rahang atas hampir mencapai sirip dubur. Pada sirip dada dan sirip punggung, masing-masing terdapat duri patil. Ikan baung mempunyai sirip lemak (adipose fin) di belakang sirip punggung yang kira-kira sama dengan sirip dubur. Sirip ekor berpinggiran tegak dan ujung ekor bagian atas memanjang menyerupai bentuk sungut. Bagian atas kepala dan badan berwama coklat kehitam-hitaman sampai pertengahan sisi badan dan memutih ke arah bagian bawah.

Baiklah sobat semua untuk lebih mendetailnya sahabat bisa membuka catatan suapaya lebih jelas silahkan dibuka dan baca......
Dan jika memang ingin mendownloadnya buat ilmu pengetahuan sialahkan klik dibawah ini


Demikian sampai disini dulu sobat semoga bermanfaat
Salam.........................

BUDIDAYA IKAN ARWANA
Selamat berjumpa kembali sahabat Luhkan Nusantara....apa kabar?? Baiklah sahabat untuk kesempatan yang kali ini penulis akan berbagi informasi pengetahuan yang saya rasa dapat bermanfaat buat kita semua kuhusunya Luhkan untuk menjadi bahan refernsi dalam pelaksanaan tugas di lapangan dan yg lebih umum lagi buat pelaku utama dan pelaku usaha dalam melaksanakan Budidaya Ikan sehingga dapat lebih baik dan maju guna terciptanya kesejateraan keluarga dan meningkatkan ekonomi. Pada postingan ini penulis akan membahas soal Ikan arwana dan jenisnya serta budidayanya.

Sepanjang waktu kepopuleran arwana di luar negeri dan dalam negeri memang cukup lama. Begitu trend memelihara arwana di dalam negeri meningkat ,bersamaan keluarnya peraturan tentang ikan cantik yang  perlu  di  lindungi  itu,sejarah  kehidupan  arwana  pun  menjadi berubah.

Arwana (Scleropages sp.) sebenarnya termasuk jenis ikan purba yang hingga kini belum punah. Banyak nama yang melekat padanya,diantara ikan siluk,ikan kayangan,ikan kalikasi,dan ikan kelasa.Bentuk badannya gepeng dan bersisik besar meliuk-liuk indah saat berenang di akuarium.Ditambah   tumbuhnya   dua   sungut   di   ujung   bibir   bawah membuat ikan ini mirip liong atau naga. Karena itu, tidak mengherankan jika sebagian masyarakat menyabutnya dengan kimliong atau ikan naga emas. Layaknya naga,arwanajuga dianggap sebagai symbol keberhasilan, keperkasaan, dan kejayaan.

Oleh karena itu mari kita pahami dan kita usahakan untuk mengetahui arwana dari berbagi jenis dan tingkat Budidayanya......

Oke sobat semua ........................
untuk lebih jelasnya silahkan buka disini dan jika ingin lebih tahu lagi silahkan di DOWNLOAD Utuk bacaan



Terima kasih

Salam.......

PERTUMBUHAN DAN KONVERSI PAKAN

Apa kabar sahabat hatiku ...semoga sahabat dalam keadaan sehat baik dan tetap bahagia. karena bagaimanapun juga kebbahagiaan adalah sesuatu yang menjadi harapan kita bersama. Apapun yg kita lakukan asal kita sehat maka semuanya akan beres dan lancar. baiklah sahabat untuk kesempatan kali ini kita aan bahas soal Pertumbuhan Ikan kerapu. Pengetahuan dasar yang sangat dibutuhkan bagi pelaksana budi daya dalam hubungannya dengan hasil adalah data pertumbuhaan. Laju pertumbuhan merupakan peningkatan dalam satuan panjang atau bobot per unit waktu. Data pertumbuhan yang umum dipakai untuk perhitungan yaitu bobot. Hal ini dimaklunii bahwa hasil panen dan pemasarannya dinyatakan dalam bobot. Pada umumya pertumbuhan bobot ikan beriainan dengan burung atau mamalia, ikan tidak berhenti tumbuh setelah mencapai kematangan seksual. Kurva pertumbuhan bobot ikan secara umum merupakan grafik sigmoid.


Grafik pertumbuhan bobot ikan

Adacara untuk menghitung laju pertumbuhan harian ikan budi daya yang dinyatakan dalam %, yaitu dengan rumus sebagai berikut.
Bh-Bo
LpH = —————————— x 100 %      
           Bh + Bo                   
—————— x h
                                                               2
Keterangan :
LPH = laju pertumbuhan harian
Bo = bobot ikan rata-rata pada awal pemeliharaan
Bh = bobot ikan rata-rata pada hari ke h
h = lama pemeliharaan
Besarnya nilai LPH tergantung ukuran dan jenis ikan. Ikan kerapu lumpur yang benikuran 50 - 100 g mempunyai LPH sekitar 2 – 3 %, sedangkan yang berukuran 200 - 300 g berkisar 0,7 - 1,5 %. Kerapu karang cenderung mempunyai LPH lebih rendah. Sebagai contoh, kerapu sunuk (Plectropoma spp) denean bobot 200 - 300 e mempunvai LPH 0,3 – 0,7 %.



Waktu yang dibutuhkan selama pembesaran dan saat ikan secara ekonomis mulai dibesarkan dapat dilihat pada pertumbuhan bobot rata-rata yang telah ada selama waktu pemeliharaan. Sebagai gambaran, data pertumbuhan bobot kerapu lumpur yang dipelihara dalam kajapung yang dilukiskan seperti grafik berikut.
Dari grafik tersebut dapat dilihat bahwa bila bobot awal 20 g dibutuhkan waktu 7 bulan untuk mencapai ukuran 500 g. Ukuran 500 g sudah merupakan ukuran komersial, sedang bila bobot awal seberat 100 g akan membutuhkan waktu 5 bulan untuk mencapai ukuran pasar. Dari data tersebut, para pelaksana budi daya lebih cenderung untuk memulai pemeliharaan kerapu dengan bobot awal seberat 100 g. Hal ini wajar karena di samping faktor resiko (kematian banyak dijumpai pada ukuran kecil), juga waktu pemeliharaan terlalu lama.

Di samping data pertumbuhan, salah satu perhitungan yang menghubungkan pertumbuhan dan jumlah pakan, yaitu konversi pakan. Konversi pakan merupakan jumlah pakan (gram) yang dimakan oleh ikan untuk menaikkan 1 gram bobot ikan. Konversi pakan 5,0 artinya untuk menaikan 1 g bobot ikan dibutuhkan 5 g pakan. Nilai konversi pakan berbeda tergantung jenis pakan, species, dan ukuran ikan serta suhu. Sebagai contoh, ikan kerapu lumpur yang diberi ikan rucah mempunyai konversi pakan sekitar 5 - 8 sedang kerapu sunuk berkisar 8 - 12.  Tampaknya pada usaha budi daya kerapu, ikan-ikan yang berharga lebih tinggi cenderung mempunyai laju pertumbuhan yang lebih rendah serta konversi pakan yang lebih tinggi.
silahkan Lihat dulu baru di  DOWNLOAD


Demikian semoga bermanfaat
salam........

TEKNIK PEMBESARAN IKAN MODEL KARAMBA JARING APUNG
Selamat malam sahabatku selamat datang dan terima kasih sudah berkunjung di gubugku. Sahabat hatiku yg saya banggakan pada postingan kita malam ini penulis akan melanjutkan pada pstingan yang sebelumnya yang berjudul Mengenal Ikan Kerapu dan potensi pasar. tujuannya penulis akan menyajikan tentang teknik pembesaran ikan kerapu dengan model Karamba jaring apung sehingga lebih jelas. Saya rasa sahabat semua sudah tahu bahwa dalam pembesaran ikan kerapu ini memang agak sedikit rumit namun sebenarnya kalau kita tekuni masih sama juga. Kita semua tahu bahwa Metode pemelihara ikan terus berkembang, mulai dari bentuk yang paling kuno berupa kolam sampai sistem air mengalir/air deras dan system karamba, baik yang berupa karamba jaring apung atau karamba tancap. Metode karamba jaring apung (kajapung) merupakan teknik akuakultur yang paling produktif dan dapat dikatakan metode intensif dengan kontruksi yang tersusun dari karamba-karamba jaring yang dipasang pada rakit terapung di perairan pantai.  Beberapa keuntungan yang dimiliki metode kajapung ialah tingginya penebaran, jumlah dan mutu air selalu memadai, tidak memerlukan pengolahan tanah, pemangsa mudah dikendalikan, dan mudah dipanen.

A.  Penentuan Lokasi
Tidak semua perairan pantai dapat dijadikan tempat pemasangan kajapung. Hal itu dikarenakan adanya beberapa faktor yang harus dipenuhi sebelum budi daya tersebut dimulai.

1.  Faktor risiko
Faktor-faktor risiko sangat ditakuti para usahawan yang ingin terjun dalam suatu usaha karena faktor ini dapat menjadi kegagalan total dalam usaha tersebut. Namun, perhitungan dan pertimbangan secara cermat atas faktor ini akan dapat membawa keberhasilan operasional budi daya. Yang tergolong faktor-faktor risiko dalam budi daya ini antara lain sebagai berikut.

a.  Gangguan alam (badai dan gelombang besar)
Badai dan gelombang besar mudah merusak kontruksi karamba sehingga memperpendek umur rakit. Gelombang yang terus menerus menyebabkan ikan menjadi stres dan selera makannya berkurang sehingga menurunkan produksi. Oleh karena itu, lokasi dipilih di perairan yang dapat terlindungi dari badai dan gelombang. Lokasi dengan pulau-pulau kecil biasanya dipilih sebagai pelindung dari ancaman gangguan ini. Salah satu contoh penempatan lokasi yang tepat untuk pemasangan karamba apung, dapat dilihat pada peta perairan Teluk Banten, Jawa Barat.


Salah satu penempatan lokasi yang terlindung dari badal
        dan gelombang besar (lihat tanda panah)

b.  Adanya predator
Umumnya, predator ikan budi daya dalam karamba ialah hewan buas laut dan burung-burung laut. Meskipun bunmg-burung dapat dihindari dengan rekayasa karamba dengan cara membuat tutup pada karamba, tetapi hewan buas laut masih merupakan ancaman. Beberapa hewan laut yang sering mengganggu karamba seperti ikan bola/buntal dan ikan besar yang ganas. Hewan tersebut merusak karamba dan mengancam ketenangan ikan sehingga menyebabkan produksi berkurang.

c.  Pencemaran
Lokasi hams bebas dari bahan pencemaran yang mengganggu kehidupan ikan.  Pencemaran tersebut dapat berupa limbah industri, limbah pertanian, dan limbah rumah tangga.  Limbah rumah tangga biasanya berupa detergen dan sampah organik. Limbah ini dapat mempengaruhi kondisi perairan atau menjadi patogen dan mengganggu kesehatan ikan secara langsung.
Contoh limbah pertanian ialah pupuk, pestisida, dan pencemaran lain. Sedangkan limbah industri contohnya bahan-bahan kimia. Limbah kimia sangat membahayakan karena seperti limbah kimia yang mengandung logam berat dapat tertimbun dalam tubuh ikan dan bisa mematikan orang yang memakannya.
Beberapa kriteria atau indikator yang dapat menentukan suatu lokasi bebas dari pencemaran yang dirumuskan oleh Tiensungrusmee dkk, tahun 1989 ialah sebagai berikut.
-         Kadar amonia sebesar 100 mg/m3 (0,1 ppm = part per million) merupakan batas maksimum yang diperbolehkan.
-         Biological oxygen demand (BOD) selama 5 hari tidak boleh melampaui 5mg/l.
-         Total bakteri tidak boleh melampaui 3.000 sel/m3.

d.    Konflik pengguna
Dalam memilih tempat untuk budi daya harus memperhitungkan adanya keterkaitan dengan pengguna sarana laut lain. Daerah-daerah yang merupakan tempat lalu lintas kapal harus dihindari untuk lokasi budi daya. Di samping itu, adanya kapal tangker minyak yang berlabuh harus dijauhi karena kapal tersebut biasanya membuang atau mendatangkan minyak ke dalam perairan.

2.  Faktor kenyamanan
Lokasi yang dekat dengan jalan besar, pasar, pelelangan ikan, dan pemasok sarana sangat memberi kemudahan dalam operasional. Demikian juga dengan adanya sumber listrik, telepon dan sarana penghubung lainnya.

3.  Kondisi hidrografi
Selain harus jemih, bebas dari pencemaran, dan bebas dari arus balik (up welling), perairan harus mempunyai sifat fisika dan kimia tertentu. Beberapa sifat fisika dan kimia yang harus diketahui yaitu suhu, kadar garam, pertukaran air dan arus, kedalaman perairan, kandungan oksigen terlarut, serta derajat keasaman.
Pada umumnya, ikankerapumenyenangi air laut berkadar garam 33 - 35 ppt (part per thousand) terutama untuk ikan kerapu karang. Kerapu lumpur masih dapat hidup baik di perairan payau (kadar garam 15 ppt), Di samping tahan kadar garam rendah, kerapu lumpur juga dapat tahan pada kondisi air yang keruh.
Suhu perairan di Indonesia tidak menjadi masalah karena perubahan suhu, baik harian maupun tahunan, sangat kecil, biasanya berkisar pada 27-32°C.
Arus air sangat membantu pertukaran air dalam karamba, membersihkan timbunan sisa-sisa metabolisme ikan, dan membawa oksigen terlarut yang sangat dibutuhkan ikan.  Namun, harus dicegah arus yang selalu berlebihan karena di samping merusak posisi karamba, juga menyebabkan ikan menjadi stres, energi banyak terbuang, dan selera makan berkurang. Kecepatan arus yang ideal sekitar 0,2 - 0,5 m/detik.
Kedalaman perairan untuk kajapung paling sedikit 1 meter, yaitu jarak dari karamba ke dasar perairan. Kedalaman tersebut untuk mencegah gangguan dari hewan-hewan bentik yang dapat menginfeksi ikan budi daya. Dasar perairan sebaiknya berupa pasir berlumpur karena akan memudahkan dalam pemasangan jangkar rakit karamba.
Pada lapisan permukaan air yang tidak tercemar biasanya mengandung oksigen terlarut cukup tinggi yang memadai untuk pertumbuhan ikan.Kandungan oksigen terlarut dalam air laut paling sedikit 4 ppm.
Air laut mempunyai daya penyangga yang besar terhadap perubahan keasaman. Umumnya, pH air laut antara 7,6 - 8,7.

B.  Potensi Areal dan Cara Penentuan Lokasi
Dari hasil survai telah diketahui areal yang berpotensi untuk pengembangan budi daya ikan dengan metode kajapung di selunih Indonesia, yaitu seluas 3.600 ha (Tabel 2). Dengan melihat areal yang begitu luas dengan kondisi daerah yang beragam, terkadang menimbulkan keraguan/kebimbangan dalam menentukan lokasi untuk budi daya. Suatu cara untuk menentukan lokasi dari beberapa pilihan lokasi seperti diuraikan dalam Tabel 3. Lokasi yang terbaik akan dinyatakan dalam jumlah nilai tertinggi.

TABEL 2. AREAL YANG BERPOTENSI UNTUK KAJAPUNG DI PERAIRAN INDONESIA

Propinsi
Daerah
Luas (ha)
Aceh
P. weh, sabang, tel. lnok, p. simeulu
200
Sumatera barat
Ma siperut sikapa, isobar, p. sipora, p. sikkap burial, tarusan, painan.

100
Riau
p. batam, p. bintan
350
Jambi
Nipah panjang, kg. laut, kuala tungkal
50
Sumatera selatan
Bangka
200
Lampung
Tel. hurun, tel. lampung
800
Jawa barat
Tel. bantam
400
Jawa timur
Tel. gili genteng, grajakan, banyuwangi, perigi, sendang biru.

300
Bali
Pajarakan
50
NTB
Tel. ekas, tel. waru kelapa, tanjung sabodo, tel. saleh sumbawa.

440
Sulawesi utara
p. sangihe
200
Sulawesi selatan
Ujung pandang, pinrang, slayer
200
Sulawesi timur
Tarahan, berau, bontang, sengkulirang, tel. adang

110
Maluku
Ambon
200
Sumber : Tiensungrusmee dkk, 1989.




Peta areal yang berpotensi untuk budi daya ikan laut
Dengan kajapung di Indonesia

TABEL 3.  SISTEM PENILAIAN UNTUK LOKASI KAJAPUNG

Parameter yang Diukur
Angka penilaian
Bobot kredit
nilai
Kenyamanan
Baik : 5
Cukup : 3
Kurang : 1
2
10
6
2
Faktor tekologi :
- Tinggi air pasang (m)
> 1,0 : 5
0,5 - 1,0 : 3
< 0,5 : 1
2
10
6
2
- Arus (m/detik)
0,2 - 0,4 : 5
0,05 - 0,2 : 3
0,4 - 0,5 : 1
2
10
6
2
- Kedalaman air
  dari dasar jaring (m)
> 10 : 5
4 – 10 : 3
< 4 : 1
2
10
6
2
- Oksigen terlarut
   (ppm)
5 : 5
3 – 5 : 3
< 3 : 0
2
10
6
0
- Kadar garam (ppt)
> 30 : 5
20 – 30 : 3
< 20 : 1
2
10
6
2
- Perubahan cuaca
Jarang : 5
sedang : 3
Sering : 1
2
10
6
2
Faktor Pendukung :
- Sumber listrik
Balk : 5
cukup : 3
Kurang : 1
1
5
3
1
- Sumber pakan
Baik : 5
cukup : 3
Kurang : 1
1
5
3
1
- Tenaga kerja
Baik : 5
cukup : 3
Kurang : 1
1
5
3
1
- ketersediaan benih
Baik : 5
Cukup : 3
Kurang : 1
1
5
3
1
Pencemaran
Tidak ada : 5
Sedikit : 3
Ada : 1
2
10
6
2
Sumber: Tiensongrusmee dkk, 1986
Evaluasi :          80 – 100 % dinyatakan baik
                        70 – 79 % layak
                          60 - 69 % layak, tetapiparameter yang bernilai rendah dapat diperbaiki dengan pendekatan ilmu pengetahuan
                        < 60%   tidak dapat dipertimbangkan

C.  Pembuatan Rakit Terapung
Untuk membuat kajapung, langkah pertama ialah membuat rakit terapung. Pembuatan rakit ini dilakukan di perairan pantai agar mudah dalam pembuatan dan pemindahan ke lokasi budi daya. Rakit dibuat dari bamboo atau kayu. Penggimaan kayu ini akan lebih tahan lama dan biasanya digunakan untuk skala yang lebih besar. Rakit ini terdiri dari beberapa unit dan dilengkapi dengan lantai dan rumah jaga.
Untuk membuat 1 unit rakit dari bambu dengan 4 karamba berukuran 3 x 3 x 3 m, dibutuhkan 10 batang bambu yang berdiameter 10 - 12 cm dan panjang 8 m. Sebagai pelampung dapat digunakan styrofoam atau drum bekas oli sebanyak minimal 9 buah.  Bambu dan pelampung dipasang sedemikian rupa dengan pengikat dari tali atau kawat. Teknik mengikat bambu di setiap sudut rakit paling luar harus kuat dan kokoh. Caranya dengan dipantek, kedua ujung bambu dilubangi, kemudian dimasukkan kayu pada lobang tadi. Setelah rakit siap lalu ditarik dengan bantuan perahu untuk dioindahkan ke lokasi budi daya.
Empat buah jangkar dan tali jangkar disiapkan untuk memasang rakit. Tali jangkar yang digunakan berdiameter 3 - 5 cm dengan panjang masing-masing 3 - 5 kali kedalaman perairan. Setiap jangkar berbobot 30 - 40 kg dan ditambahkan karung yang berisi pasir sebagai penahan.
Karamba yang sudah segera siap dipasang pada rakit dengan mengikatkan sudut-sudut karamba ke sudut-sudut bingkai rakit. Di setiap sudut karamba dipasang , pemberat dan tali pemberat. Untuk pemberat, dapat digunakan timah atau adukan semen+pasir dengan bobot 3 - 4 kg per buah, sedang untuk tali pemberat, digunakan tali berdiameter 1 cm dengan panjang 4 m.  Cara memasang pemberat: tali pemberat diikatkan pada pemberat, ujung yang lain diikatkan sementara pada bingkai di sudut-sudut karamba. Ujung tali dekat pemberat dibelitkan pada tali sudut bawah karamba. Pemberat diturunkan ke perairan sampai karamba menjadi tegang, kemudian tali pemberat ditarik ke atas 10 cm dan ujung tali pemberat diikat kembali pada bingkai rakit di sudut karamba, dengan demikian yang tegang adalah tali pemberat, bukan karamba.


Proses pembuatan 1 unit rakit terapung dengan kerangka dari bambu




Denah kontruksi 41unit rakit terapung dengan 4 buah karamba



salah satu unit-unit kajapung di peraiaran teluk banten

 






Denah kontruksi 4 unit rakit terapung yang dilengkapi dengan
lantai  kerja dan rumah jaga



D.  Pembuatan Karamba
Biasanya karamba yang siap untuk dipasang di rakit belum tersedia di pasaran.  Bahan yang tersedia masih dalam bentuk jaring polietilen yang digulung dan dijual berdasarkan bobot. Jaring polietilen no 380 D/9 dan 380 D/13 berukuran mata jaring (mesh size) 1 inci dan 2 inei (atau 1 cm dan 2 cm). Untuk membuat sebuah karamba dengan ukuran tertentu, ada caranya. Biasanya untuk membuat karamba ada istilah "hang in ratio" (S), yaitu nilai persentase jika jaring yang terdiri dari mata jaring direntangkan antara dua ujung jaring. Rumusnya adalah sebagai berikut.
L—   1
S = ———————— x 100%
L

L = panjang jaring dalam keadaan tertarik(direntangkan).
1 = panjang jaring tidak direntangkan.
Contoh membuat karamba 3x3x3 m dengan matajaring 1 inci (2,5 cm) dan hang in ratio = 30 %.
Pola jaring karamba dilukiskan sebagai berikut.

 



Pola jaring yang akan dipotong (a) untuk sisi samping dan
(b) untuk sisi bawah

Sedangkan rumus perhitungannya :
1          12
L= ———— = ————— = 17,14 m
1 - S        (1 - 0,3)
    17,14
Dengan demikian panjang tiap sisi karamba = ———— = 4,28 m
428                            4
dengan jumlah mata jaring ———— =171.
2,5
Kedalaman atau tinggi karamba dihitung dengan rumus :
                                             420
denganjumlah matajaring ————  = 168
                                               2,5
d = kedalaman atau tinggi karamba sesudah hang in ratio



Sebuah karamba yang slap dipasang di rakit terapung
  
Tepi sisi samping karamba (model di atas) dihubungkan dengan tepi sisi bawah karamba dan dirajut dengan tali plastik berdiameter 2 mm. Kemudian, setiap tepi sisi karamba ditambahkan/ditelusuri dengan tali berdiameter 0,5 -1 cm dan dirajut. Khusus untuk bagian tepi bawah karamba, pada tali dimasukkan timah-timah berlobang sebesar biji kacang atau lebih dengan jarak satu sama lain 5 cm.


 untuk sementara sampai disini saja dulu ya sobat jika memang sobat membutuhkan makalah ini sekedar untuk bacaan silahkan disedot dan lihat dulu disini kemudian jika mau mendownloadnya silahkan KLIK DOWNLOAD....

Sampai disini duliu semoga apa yg saya sajikan dapat memberi manfaat buat sobat semua yg lagi mencari referensi sebagai tambahan untuk lebih menyempurnakan referensi lainnya
Salam.............

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Gambar tema oleh merrymoonmary. Diberdayakan oleh Blogger.