Articles by "BRSDMKP"

Tampilkan postingan dengan label BRSDMKP. Tampilkan semua postingan

Indonesia dihadapkan dengan dilema pengembangan bisnis ikan hias. Di satu pihak berdasarkan catatan Sensus Pertanian tahun 2013 ikan hias dinyatakan sebagai sumber pendapatan rumah tangga tertinggi diatas semua jenis usaha dibidang pertania dengan nilai sekitar 50 juta pertahun, namun di sisi lain banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang belum mendukung dan memihak pada industri ini. Sedikitnya 28 aturan telah terdata dalam perdagangan ikan hias  secara nasional dimana kewenangan KKP tidak lebih dari 30% atau sebanyak 8 regulasi yang masing-masing diterbitkan oleh DJPB (5 regulasi), BKIPM (2) dan DJPSDPKP (1) sedangkan 70% regulasi lainnya berada diluar wilayah KKP. Disamping aturan perdagangan juga ditemukan kebijakan-kebijakan yang berdampak pada industri ikan hias, seperti penerapan Permen KP 41 tahun 2014 tentang larangan masuk beberapa jenis ikan berbahaya. Kendala-kendala lain yang dihadapi oleh industri ikan hias diantaranya; keterbatasan jalur penerbangan langsung ke negara tujuan, lemahnya kelembagaan, sentra produksi dan promosi. Tentu kondisi ini menjadi tantangan bagi Indonesia untuk tampil sebagai produsen ikan hias terbesar di dunia. 

Jika dilihat secara internal (kedalam negeri) maka Indonesia telah memiliki semua syarat untuk menjadi produsen ikan hias utama di dunia baik dari segi keragaman jenis ikan, kondisi alam hingga sumberdaya manusianya. 
Data yang tertara dalam web Fishbase.org menunjukkan sebanyak 4773 spesies ikan mendiami perairan Indonesia, 3631 spesies diantaranya berasal dari air laut dan 1225 spesies mendiami air tawar. 

Dari sumberdaya manusia, Indonesia memiliki pembudidaya ikan hias yang handal terutama dibidang pembenihan dan pakan alami. Selain faktor internal, ada faktor eksternal yang menimbulkan sikap optimis bangsa Indonesia seperti: pembangunan dam (bendungan) di sungai-sungai penghasil ikan hias dunia yaitu Afrika dan Brazil, ini menjadi peluang yang sangat bagus untuk Indonesia, karena ikan-ikan dari negara tersebut telah dikembangkan /dibudidayakan di negara Indonesia dan di alam keberadaan ikan-ikan tersebut telah teranca punah, optimisme yang lain yaitu beberapa maskapai telah membuka jalur penerbangan dari Indonesia seperti Emirat dan Ethirad serta maskapai asia timur lainnya, sehingga ini bisa membuka pasar baru ikan hias Indonesia tanpa melalui Singapura. Disamping itu kemajuan teknologi dibidang informatika dan telekomunikasi membuat pasar menjadi non barier, ini tentu menjadi sebuah keuntungan dari bangsa Indonesia.

Sebuah visi untuk menjadikan Indonesia sebagai produsen ikan hias nomor 1 di dunia mulai digaungkan dalam Diskusi dan Komitmen Bersama “Menuju Indonesia sebagai Produsen Ikan Hias No. 1 di Dunia tahun 2019” yang menghadirkan beberapa narasumber dari lingkup KKP yaitu Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, Direktorat Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan, Biro Kerja antar Lembaga, Pusat Data Statistik dan Informasi, Asosiasi Ikan Hias (PIHI dan DIHI), Eksportir dan pembudidaya ikan hias (CV Bellenz dan Yayasan LINI).

Setelah mendengar dan memperhatikan paparan dan arahan:
(1) Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan
 Sambutan Walikota Depok yang diwakili oleh Asisten Bidang Ekonomi Walikota Depok
(2) Arahan Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan
(3) Pemaparan:
1 Strategi Menuju Indonesia sebagai Produsen Ikan Hias No. 1 di Dunia oleh Bapak Ir. Sarifin, MS (Direktur Direktorat Perbenihan, DJPB)) dan Bapak Suhana, M.Si (DIHI)
2.  Menuju Sistem Pelayanan Terpadu Satu Pintu Perdagangan Ikan Hias oleh Bapak Rifky Setiawan (Kepala Bagian Kerjasama Antar Lembaga, Biro Keramas KKP) dan  Bapak Ir. Iskandar Ismanadji (PIHI) 
3. Strategi Promosi Menuju Indonesia Sebagai Produsen Ikan Hias No. 1 di Dunia oleh Ibu Isyaturradhiyah, M.Si (Kepala Sub Bidang Promosi dan Kerjasama dalam Negeri, Ditjen PDSKP) dan Ibu Gayatri R Lilley (Pendiri Yayasan Alam Indonesia Lestari)
4. Optimisme Industri Ikan Hias Indonesia oleh Bapak Rajanta Sinardja Rahardja (Direktur CV. Bellenz Fish Farm)
5. Penguatan Program Satu Data IKan Hias Indonesia oleh Bapak Dr. Budi Sulistyo, M.Sc (Kepala Pusat Data dan Statistik Informasi KKP)
6. Serta hasil diskusi yang berkembang, maka rumusan Rencana Aksi Nasional  “Indonesia Menuju Produsen Ikan Hias No. 1 di Dunia” Tahun 2016 sebagai berikut:

UMUM
1.1   Arahan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan, tema “Menuju Indonesia sebagai Produsen Ikan Hias Nomor 1 di Dunia tahun 2019” ini memiliki motivasi untuk mendongkrak dan semangat perjuangan untuk menjadikan Indonesia sebagai negara terdepan masalah ikan hias di Dunia, karena  Indonesia memiliki semua syarat untuk menjadi produsen ikan hias utama di dunia baik dari segi keragaman jenis maupun potensi jumlahnya. Ada tiga hal yang penting diperhatikan untuk mewujudkan cita-cita tersebut tersebut:
o Pahami dan kuasai segala hal terkait perdagangan ikan hias di dunia baik jenis, jumlah, harga, sistem handling, lokasi diperoleh dan lain-lain
o Potret potensi internal (negara kita), seberapa siap negara kita menjadi produsen ikan hias, birokrasi apa saja yang harus direduksi dan ditumbuhkan sehingga angka produksi dan perdagangan ikan hias Indonesia terus meningkat,
o Buat strategi, roadmap, rencana aksi dan bisnis plan, yang melahirkan aksi-aksi dengan indikator yang terukur seperti waktu dan jumlah, sehingga tidak hanya rencana yang bersifat normatif. 

1.2  Untuk memperkuat komitmen dibutuhkan Deklarasi “Menuju Indonesia sebagai Produsen Ikan Hias Nomor 1 di Dunia tahun 2019” yang tertuang dalam rencana aksi nasional.

1.3  Permasalahan yang terindetifikasi pada mata rantai bisnis ikan hias di Indonesia adalah:
Produksi dan mutu (belum ada sentra-sentra teknologi produksi jenis ikan hias)
Transportasi perdagangan (terkait masalah perdagangan/ekspor ikan hias)
Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP)
Promosi (lemah/kurangnya promosi)

HASIL DISKUSI
2.1  Perlu tindak lanjut Rencana Aksi Nasional (RAN) “Menuju Indonesia sebagai produsen ikan hias nomor 1 di dunia tahun 2019” melalui pembentukan komisi Produksi dan Mutu, Promosi, Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) dan Transportasi dan Pedagangan.

2.2  Segera disusun RAN memuat roadmap dan indikator keberhasil, aksi serta bisnis plan

2.3  Perlu dirumuskan kembali Indonesia akan menjadi produsen atau pengeksport ikan hias nomor satu di dunia, karena untuk produksi mungkin Indonesia bisa mencapainya namun perdagangan akan sangat sulit untuk mengalahkan Singapura yang merupakan Trading Country

2.4  Perlu merilis branding ikan hias nasional, karena saat ini Indonesia belum memiliki branding ikan hias (andalan) seperti Srilangka untuk ikan Guppy, Thailand untuk ikan Cupang (Betta), Malaysia untuk jenis Lauhan, Cheko untuk ikan Pleco dan lain-lain.

2.5  Produksi ikan hias nasional saat ini masih mengandalkan ikan introduksi (exotic species),  dan keberadaan ikan tersebut pun masih dibutuhkan untuk meningkatkan variasi ikan hias, namun aturan untuk impor ikan-ikan jenis baru dari luar sangat sulit, bahkan Permen No 41 tahun 2014, melarang ikan-ikan jenis tertentu masuk ke perairan Indonesia padahal sebahagian ikan tersebut telah berkembang di Indonesia.

2.6  Peningkatan produksi ikan hias juga diiringi dengan peningkatan mutu (melalui penerapan CBIB-IH, CPIB-IH, CKIB), peningkatan variasi, dan peningkatan keterampilan pelaku budidaya ikan hias serta  jaminan pasar terutama di sentra-sentra produksi ikan hias,
2.7  Promosi ikan hias asli Indonesia harus dilakukan secara maksimal dimulai dari identifikasi, domestikasi dan budidaya, saat ini ikan-ikan asli Indonesia masih menggantungakan produksinya dari hasil tangkapan alam demikian juga dengan informasi ilmiah dan kegiatan domestikasi pun masih terbatas



OLEH: BRSDNKKP

Bantuan 100 juta ekor benih ikan kepada masyarakat pembudidaya merupakan salah satu dari 12 program prioritas  Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tahun 2017. Bantuan benih yang dikawal oleh penyuluh perikanan  tersebut  bertujuan untuk meningkatkan produksi perikanan dan kesejahteraan masyarakat pembudidaya.

          Dari program  KKP tersebut kabupaten Pinrang mendapatkan sebanyak 2.450.000 ekor benur udang windu diterima oleh 10 kelompok pembudidaya ikan (Pokdakan) di kecamatan Lanrisang pada 22 Juli 2017. Kesepuluh kelompok tersebut adalah Pokdakan Masarrocinnae, Pottotau, Mamminasae, Masagenae, Lawarang, Sumpang Saddang, Lasorobonang II, Tadangpalie, Sipulung dan Pokdakan Salopokko.

          Setelah dipelihara kurang lebih 55-60 hari benur udang windu bantuan KKP ini sudah memasuki masa panen. Cepatnya laju pertumbuhan udang windu karena ditopang oleh pakan alami Phronima sp. “Sebelum tebar benur petakan tambak sudah diperisapkan dengan matang termasuk menumbuhkan pakan alami phronima sp,” ungkap Zainuddin ketua Pokdakan Salopokko desa Waetuoe kecamatan Lanrisang. Dijelaskan Zainuddin, bantuan pemerintah itu cukup membantu pembudidaya terutama di masa krisis benur. Karena pada bulan Juni sampai Agustus banyak pembenihan udang melakukan pengeringan bak untuk persiapan produksi pada bulan Oktober.

          Sementera itu ketua Pokdakan Pottotau kelurahan Lanrisang, Syarifuddin Zain menilai bantuan benur dari KKP merupakan stimulan dan sebagai motivasi kepada pembudidaya untuk terus semangat meningkatkan produksi udang windu. Apalagi saat ini harga pasar udang windu semakin menggiurkan dari mulai size kecil hingga size besar. “Masa budidaya udang windu cukup 45-55 hari sudah bisa capai size 99-150 ekor perkilogram sudah bisa diterima pasar Jepang,” kata Syarifuddin. Panen udang windu yang dilakukan petambak secara selektif menggunakan waring perangkap (bagang-bagang). Udang yang masih size dibawah standar dilepas kembali. Perangkap udang dipasang pada sore hari ketika terjadi siklus pasang surut air laut. Keesokan hari udang yang masuk ke dalam perangkap diambil menggunakan tangan kosong atau pakai serok.

          Kesuksesan petambak penerima program dari KKP tidak lepas dari pengawalan yang dilakukan oleh penyuluh perikanan setempat. Penyuluh perikanan melakukan pendampingan mulai dari penyusunan proposal permohonan hingga pendistribusian bantuan benur. Secara teknis  penyuluh mendampingi pembudidaya melakukan pengecekan kualitas tanah dan air tambak seperti pH tanah ketika tambak masih kering, salinitas dan pH air. Demikian juga pengontrolan populasi pakan alami phronima. (Abdul Salam Atjo)

           Ketfoto: Penyuluh perikanan desa Waetuoe kecamatan Lanrisang melakukan pendistribusian bantuan benur udang windu bantuan KKP beberapa waktu lalu         




BPRSDMKP





Keunggulan  kista artemia sebagai pakan larva udang dan ikan yang mampu  menghasilkan tingkat kelangsungan hidup (survival rate) tinggi masih  belum dapat tergantikan oleh jenis pakan lainnya. Sayangnya, kebutuhan  kista artemia dalam negeri sebagian besar masih dipenuhi dari impor yang  harganya mahal. Kendala utama dalam budidaya kista artemia terletak  pada penanganan pascapanen, di antaranya disebabkan kerena teknologi  belum tersedia dan tetas kista artemia kering masih belum tinggi.     

Inovasi ini menawarkan tidak hanya alat  pengering kista artemia, tetapi juga teknologinya. Alat pengering kista  artemia tipe drum berputar (rotary drum dryer) ini dapat meningkatkan  daya tetas kista artemia kering sehingga lebih dari 70% melalui proses  pengeringan dalam waktu kurang dari 8 jam, hingga mencapai kadar air  kurang dari 10%.  

PERSPEKTIF
Kemampuan   mengolah jasad renik yang kecil bisa memberikan kontribusi besar bagi  perekonomian bangsa, karena meletakkan dasar kokoh bagi industri  perikanan kita. 
KEUNGGULAN INOVASI Tingkat daya tetas kista artemia yang dikeringkan lebih dari 70% Tingkat pengeringan mencapai 10% kandungan air dan tidak tergantung sinar matahari Kista artemia kering yang dihasilkan sangat homogen. 

POTENSI APLIKASI 
Inovasi  dapat diaplikasikan di daerah-daerah pertambakan, khususnya tambak  garam yang juga membudidayakan artemia, baik skala kecil maupun besar.   
Inovator:  Bagus Sediadi Bandol Utomo; Singgih Wibowo; Th Dwi Suryaningrum
Institusi:  Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Alamat:  Jl. KS Tubun Petamburan VI, Jakarta 10260
Status paten:  Belum dipatenkan Email: pproduk.biotek@kkp.go.id 


Oleh: BRSDMKKP

Agar bakto adalah agar-agar khusus yang  digunakan sebagai media pertumbuhan mikroorganisme di laboratorium,  biasanya digunakan di bidang mikrobologi dan bioteknologi. Sayangnya  kebutuhan agar bakto selama ini masih diimpor dari luar negeri, karena  ekstraksi yang sulit sehingga mahal harganya. Agar bakto ini dapat  diekstrak dari rumput laut Gelidium sp yang merupakan bahan baku agar bakto dan tersedia melimpah di Indonesia.     

Invensi ini menawarkan proses ekstraksi agar bakto dari rumput laut Gelidium sp.,  dengan memanfaatkan proses bertekanan tinggi pada suhu tinggi. Cara ini dapat menghasilkan agar bakto dengan kekuatan gel dan rendemen yang tinggi, selisih antara titik leleh dan titik jendal (hysteresis)  cukup besar, sehingga bagus untuk digunakan di laboratorium, terutama  karena memudahkan pengamatan Angka Lempeng Total (ALT) untuk uji jumlah  total bakteri di laboratorium.     

PERSPEKTIF  
Inovasi ini memungkinkan untuk  diproduksinya agar bakto dalam negeri yang selama ini diimpor. Selain  menjadi pilihan untuk substitusi import, tetapi juga meningkatkan nilai  tambah rumput laut Gelidium sp. yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal di dalam negeri.     

KEUNGGULAN INOVASI  
Menghasilkan jel yang kuat, yaitu dengan gel strength 1.019 g/cm² Menghasilkan rendemen yang cukup tinggi untuk jenis Gelidium sp., yaitu 15,03% Selisih yang besar antara titik leleh dan titik jendal (hysteresis), sehingga memudahkan pengamatan Angka Lempeng Total (ALT) di laboratorium.   

POTENSI APLIKASI               
Dapat digunakan di  laboratorium untuk uji mikrobiologi seperti Angka Lempeng Total (ALT),  isolasi bakteri, maupun uji mikrobiologi atau bioteknologi yang  memerlukan bakto agar lainnya.

INOVATOR         :       Murdinah; Subaryono M. Darmawan; Dina Fransiska   
Sumber: Buku Inovasi dan Buku Rekomendasi Teknologi Litbang KP 2013 



Oleh: BRSDMKKP

Usaha pengolahan patin akan lebih  menguntungkan jika dilakukan dengan menerapkan zero waste concept.  Dengan konsep ini, usaha pengolahan patin diarahkan dengan memproduksi  fillet patin sebagai produk utama. Sisanya yang berupa kepala, tulang,  dan kulit yang jumlahnya mencapai 60% dari berat patin dapat diolah  menjadi produk olahan seperti tepung ikan, kerupuk dan krispi yang  masing-masing dapat diusahakan dalam usaha terpisah yang menguntungkan.  Jika usaha pengolahan fillet patin ini dilakukan secara terintegrasi  dengan memanfaatkan hasil samping tersebut akan lebih menguntungkan.  Pemanfaatan semua bagian tubuh patin yang nir limbah ini dapat  memberikan keuntungan tambahan yang sekaligus mengimplementasikan zero  waste concept yang merupakan salah satu prinsip utama dalam blue economy  sehingga usaha ini dapat dikatagorikan sebagai usaha yang sangat ramah  lingkungan.     

LATAR BELAKANG  
Patin merupakan salah satu komoditas  unggulan ikan budidaya yang dikembangkan di Indonesia (di sungai, danau,  waduk, maupun kolam) karena memiliki pangsa pasar sangat besar baik di  dalam maupun di luar negeri, budidayanya mudah, pertumbuhannya cepat,  dan mudah beradaptasi dengan berbagai kondisi lingkungan. Produksi patin  Indonesia (Anon, 2012a) meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2007  produksi patin nasional mencapai 47.594 ton meningkat 5 kali lipat lebih  menjadi 243.419 ton pada tahun 2011 (Gambar 1). Ditargetkan pada tahun  2014 nanti produksi menjadi 1,8 juta ton (Anon., 2013a). Peningkatan  produksi yang luar biasa ini menuntut tindakan yang tepat, tertutama  untuk memanfaatkan nilai tambah semaksimal mungkin di dalam negeri  sekaligus memenuhi permintaan dalam negeri yang tinggi. Di sisi lain,  permintaan ekspor akan ikan ini pun terus meningkat, terutama dari pasar  Eropa dan Amerika Serikat. Namun demikian, di pasar ekspor harga ikan  patin Indonesia belum dapat bersaing dengan patin Vietnam yang saat ini  menguasai 80% pasar dunia.   Peluang ekspor patin bagi Indonesia  semakin terbuka lebar setelah Amerika Serikat mulai menutup impor patin  dari Vietnam karena disinyalir mengandung bahan berbahaya bagi kesehatan  manusia. Amerika Serikat mengimpor patin hingga 1,1 juta ton per tahun,  terutama dalam bentuk fillet, yang didominasi oleh patin Vietnam. 

Pasar  potensial lainnya adalah pasar Eropa (terutama pasar Uni Eropa) yang diperkirakan kebutuhan pasarnya jauh di atas kebutuhan patin di pasar Amerika Serikat (Anon., 2013b). Saat ini 25% pangsa pasar patin di pasar  Eropa dikuasai patin Vietnam. Potensi ekspor patin ke pasar Eropa ini  makin meningkat dengan dikeluarkannya kebijakan untuk membatasi  perburuan ikan cod. Sebagai gantinya, masyarakat Eropa mulai beralih ke  patin yang daging dan teksturnya mirip dengan ikan cod. Pasar potensial  lainnya adalah Timur Tengah khususnya Dubai (Uni Emirat Arab) yang  menginginkan patin ukuran 2 ekor/kg (Anon., 2013b).   

Dengan mempertimbangkan potensi serta  keunggulan yang dimiliki dalam mengembangkan produksi patin nasional  maka bukanlah hal yang mustahil jika Indonesia mampu menjadi salah satu  eksportir patin terbesar dunia. Program industrialisasi menjadi salah  satu usaha nyata dalam rangka mewujudkan harapan tersebut. Ditambah lagi  dengan peluang pemasaran patin baik untuk konsumsi dalam negeri maupun  untuk memenuhi permintaan impor dari beberapa negara di dunia. ?  

Masalah yang dihadapi untuk  mengembangkan potensi patin Indonesia adalah harga jual yang masih  tinggi dan bagaimana meningkatkan nilai tambah patin itu sendiri di  dalam negeri agar patin Indonesia mampu bersaing di tingkat internasional. Usaha pengolahan fillet patin untuk memenuhi pasar dalam maupun luar negeri merupakan usaha yang menguntungkan. Usaha ini akan makin menguntungkan jika diikuti dengan pemanfaatan hasil samping  seperti kepala, tulang, sisa daging dan kulit sehingga tidak terdapat  bagian tubuh patin yang terbuang (nir limbah). Upaya ini merupakan  implementasi dari zero waste concept yang merupakan salah satu jiwa dari  prinsip blue economy.   Secara parsial, usaha pengolahan hasil  samping menjadi produk olahan merupakan usaha yang menguntungkan untuk  dikerjakan dalam skala besar maupun UKM, bahkan hingga skala mikro.  Usaha tersebut akan makin menguntungkan jika dilakukan secara  terintergrasi dengan memproduksi fillet sebagai produk utama dan hasil  samping sebagai produk tambahan untuk usaha skala besar hingga UKM.  
Produk-produk olahan hasil samping dari pengolahan fillet patin telah dikembangkan oleh Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan, seperti kerupuk tulang  patin, krispi kulit patin dan tepung ikan dari hasil samping lainnya  (Suryaningrum et al., 2012).   Usaha pengolahan lain yang biasa dan  telah lama dilakukan di Indonesia namun tidak menghasilkan hasil samping  adalah salai patin (patin asap) yang secara finansial menguntungkan.  Salai patin ini lebih ditekankan untuk memenuhi permintaan dalam negeri  yang tinggi, namun demikian, dengan perbaikan cara pengolahan dan  peningkatan mutu, tidak tertutup kemungkinan produk ini untuk diekspor  terutama ke pasar Asia dan Afrika yang memiliki selera serupa dengan  Indonesia.     
        

Gambar 1. Perkembangan produksi patin nasional (Anon, 2012)       


PENGEMBANGAN USAHA PATIN TERINTEGRASI NIR LIMBAH  
Diversifikasi pengolahan patin menjadi  beberapa produk siap olah dan siap saji akan meningkatkan nilai tambah  produk patin itu sendiri. Produk diversifikasi ini dapat memberikan  pilihan yang lebih luas bagi konsumen untuk memenuhi minat akan produk  yang praktis dan menarik. Disamping itu, produk tersebut memiliki pangsa  pasar yang sangat terbuka baik untuk tujuan pemenuhan kebutuhan  domestik maupun kebutuhan ekspor ke beberapa negara di dunia. Pengembangan usaha pengolahan patin dengan zero waste concept ini sangat mungkin untuk diterapkan mengingat patin dapat dimanfaatkan secara menyeluruh mulai dari daging, kepala, tulang, kulit, sirip dan isi  perut. Penerapan zero waste concept dalam usaha pengolahan patin yang  terintegrasi dapat meningkatkan margin usaha jika dibandingkan usaha  masing-masing secara parsial.   

Salai patin merupakan salah satu bentuk  olahan patin tradisional yang telah dilakukan di beberapa daerah  (terutama di Kampar, Sumatera) dalam bentuk utuh tanpa menyisakan bagian  tubuh yang lain kecuali isi perut. Usaha pengolahan salai patin ini  umumnya dilakukan di pedesaan yang hasil produksinya dikumpulkan oleh  pedagang pengumpul dan selanjutnya didistribusikan ke daerah pemasaran.  Namun demikian, mekanisme pemasaran untuk ekspor belum berfungsi,  sedangkan masalah sanitasi dan higiene belum diterapkan dengan ketat.  

Hal ini menjadi kendala utama untuk pemasaran salai patin ke luar  negeri. Teknologi pengolahan salai patin cukup sederhana sehingga  potensial sebagai alternatif pengembangan pengolahan di sentra produksi  patin di Indonesia. Pasar domestik yang sangat besar dapat menjadi  alasan penting untuk terus mengembangkan salai patin. Pasar domestik  salai patin antara lain Jakarta, Medan, Pekanbaru, Aceh, Padang, dan  Batam. Sedangkan pasar ekspor salai patin adalah negara tetangga seperti  Malaysia dan Singapura, atau bahkan Afrika yang memiliki selera yang  serupa terhadap produk ini. Sejak tahun 2010 hingga 2012 diperkirakan  ekspor salai patin ke kedua negara Asia tersebut mencapai tiga ton  (Anon., 2013b). Pengolahan salai patin ini dapat diusahakan secara  komersial dengan skala produksi 22 ton per tahun dengan investasi Rp. 87.000.000,- yang dapat kembali investasi (ROI) dalam 1,25 tahun (keuntungan bersih Rp. 71.000.000,-/tahun). Rincian analisis finansial  seperti pada Tabel 1.   Daging patin dapat dimanfaatkan menjadi  berbagai produk olahan seperti fillet, surimi, kerupuk maupun abon  patin. Pengembangan pengolahan fillet patin (40% dari berat patin) dapat  dijalankan secara terpisah maupun terintegrasi dengan pengolahan  lainnya (60%) seperti kerupuk, krispi dan tepung ikan dengan fillet  sebagai produk utama. Jumlah UPI fillet patin yang ada di Indonesia pada  tahun 2012 berjumlah 8 (delapan) unit yang ada di Jakarta, Surabaya dan  Banjarmasin. Pada tahun 2013, Kementerian Kelautan dan perikanan (KKP)  telah membangun 6 UPI fillet patin serta pabrik dan pengolahan tepung  ikan yang tersebar di Kab. Muaro Jambi, Kab. Kampar, Kab. Tulung Agung,  Kab. Banjar, Kab. Karawang dan Kab. Purwakarta (Anon., 2013c). Dengan  mempertimbangkan jumlah produksi patin nasional, usaha pengolahan fillet  patin masih terbuka. Pengolahan fillet ini dapat diusahakan dengan  investasi Rp. 1.000.000.000,- (skala produksi 480 ton/tahun) dengan  kemampuan balik investasi (ROI) 1,9 tahun (Tabel 1).                
   
Tabel 1. Analisis keuntungan finansial usaha pengolahan patin          
Usaha pengolahan tepung ikan merupakan  usaha sampingan yang memanfaatkan sebagian besar (93%) hasil samping  usaha pengolahan fillet. Nilai produksi tepung ikan berbahan baku patin  mengalami peningkatan dimana pada tahun 2012 dihasilkan 164 ton tepung  ikan sedangkan di tahun 2013 menjadi 3.305 ton, pada tahun 2014 produksi  tepung ikan berbahan baku patin diharapkan mencapai 7.070 ton (diolah  dari Anon., 2012b). Pengolahan tepung ikan berbahan patin membutuhkan  investasi Rp. 800.000.000,- dengan skala produksi 133 ton per tahun dan  kemampuan balik investasi (ROI) dalam 1,5 tahun (Tabel 1).                      
                            
Gambar 2. Pohon industri patin       

Produksi krispi kulit dan kerupuk tulang  patin dapat dikembangkan sebagai alternatif bagi UMKM. Kerupuk tulang  patin maupun krispi kulit patin merupakan produk yang mempunyai umur  simpan yang cukup lama karena produk ini dapat disimpan dalam bentuk  kering. Meskipun pemasarannya hampir kebanyakan untuk pasar domestik,  namun tidak tertutup kemungkinan untuk dijadikan produk ekspor ke Asia,  Timur Tengah dan bahkan Amerika Serikat maupun Eropa dengan syarat  diproduksi dengan mengikuti kaidah GMP yang ketat dan mutu yang tinggi.  Pengolahan krispi kulit patin secara komersial membutuhkan investasi Rp.  260.000.000,- untuk skala produksi 49 ton per tahun dan kemampuan balik  investasi (ROI) dalam 1,9 tahun dengan laba bersih Rp.  141.000.000,-/tahun (Tabel 1). Untuk usaha pengolahan krupuk tulang  patin dapat dilakukan dengan skala produksi 28 ton/tahun yang memerlukan  investasi Rp. 238.000.000,-. Usaha ini mampu menghasilkan laba Rp.  232.000.000,-/tahun dan jangka waktu pengembalian investasi (ROI) 1,1  tahun (Tabel 1).                  

Disamping produk diatas,  bentuk olahan lainnya yang dapat dihasilkan dengan menggunakan daging  patin adalah produk surimi dan produk berbasis surimi. Surimi merupakan  produk setengah jadi, berupa daging lumat yang dibersihkan dan mengalami  pencucian berulang-ulang sehingga sebagian besar bau, darah, lemak dan  pigmen telah hilang. Dari surimi dapat dibuat berbagai macam produk  berbasis surimi seperti nugget, bakso, sosis, fish cake maupun kamaboko  yang dapat meningkatkan nilai tambah dari patin. Pemasaran produk-produk  tersebut dalam bentuk beku yang tersebar di berbagai supermarket yang  ada di Indonesia. Teknologi pengolahan produk produk tersebut telah  dikembangkan oleh Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pengolahan  Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan (Suryaningrum et al.,  2012).   
    
REKOMENDASI   
Perlu adanya pengembangan usaha pengolahan patin yang terintegrasi  untuk skala UKM yang lebih menguntungkan sekaligus untuk  mengimplementasikan zero waste concept. Perlu dibangun usaha pengolahan patin terintegrasi di sentra  produksi patin sebagai model usaha skala UKM yang menerapkan prinsip GMP  (terutama aspek sanitasi dan higiene) sehingga peluang ekspor produk  yang dihasilkan makin terbuka luas. Perlu dilakukan upaya yang lebih tepat mulai dari budidaya hingga  pemasaran untuk mengambil peluang ekspor patin baik dalam bentuk segar  maupun bentuk olahan sehingga dapat meningkatkan nilai tambah dari  patin. Mekanisme pemasaran ekspor perlu difungsikan dengan baik sehingga  hasil produksi olahan ikan patin dapat terserap seluruhnya oleh pasar.      

IMPLIKASI KEBIJAKAN   
Nilai tambah patin akan dapat dinikmati lebih besar di dalam negeri,  terutama oleh usaha skala UKM. Disisi lain, diperlukan langkah-langkah  tegas untuk meningkatkan efisiensi budidaya patin untuk menjamin  ketersediaan bahan baku yang kontinyu dengan harga terjangkau. Potensi kerugian yang mungkin timbul dari usaha pengolahan patin  yang parsial dapat ditekan dengan penerapan pengolahan terintegrasi. Potensi pencemaran lingkungan yang ditimbulkan akibat berkembangnya  usaha pengolahan patin (fillet) dapat dikurangi atau bahkan dihindari. Peluang ekspor produk olahan patin dan hasil sampingnya dapat dimanfaatkan. Diperlukan penguatan SDM pengolahan dan alih teknologi pengolahan  produk ikan patin dalam menerapkan prinsip GMP secara konsisten. Penguatan kelembagaan dalam pemasaran sangat diperlukan untuk mendukung kesempatan dalam meraih pasar ekspor.      

DAFTAR PUSTAKA  
Anon. 2012a. Statistik Perikanan KKP. Kementerian Kelautan dan Perikanan.  
Anon. 2012b. Bahan diskusi sinkronisasi dengan Litbang Pengolahan  Produk dan Bioteknologi. Direktorat Jendral Pengolahan dan Pemasaran  Hasil Perikanan.  
Anon. 2013a. Budidaya Patin Butuh 1,3 Juta Ton Pakan Ikan. . Diakses 15 Januari 2014  
Anon. 2013b. Pengembangan Usaha Ikan patin. Warta Ekspor. Ditjen  PEN/MJL/004/10/2013 Oktober. Kementerian Perdagangan RI. Hal. 3 – 11.  Diakses 15 Januari 2014  
Anon. 2013c. Produksi Ikan Patin Ditergetkan 1,1 juta ton. Antara News. . Diakses 15 Januari 2014.  
Suryaningrum, TD., Suryanti, dan Muljanah, I. 2012. Membuat filet ikan patin. Penebar Swadaya.
  http://www.bbp4b.litbang.kkp.go.id/skala-ekonomi-usaha-pengolahan-patin-nir-limbah 



Pendahuluan
Geodinamika sebagai cabang keilmuan dari geologi memegang peranan penting untuk mengungkap potensi sumber daya yang berada di bawah perairan laut dalam (deep sea) ataupun dasar laut (seafloor). Konsep klasik tentang tatanan tektonik lempeng dunia (plate tectonic) yang berkembang pada pertengahan abad ke-20, pada saat ini semakin berkembang pesat bersamaan dengan perkembangan teknologi instrumentasi kelautan abad ke-21. 

Kawasan laut dalam (kedalaman > 200 m) di Indonesia, berada di Kawasan Samudera Hindia Perairan Barat Sumatera dan Selatan Jawa, serta Perairan Kawasan Timur Indonesia. Kawasan Timur Indonesia ditempati oleh dua pulau besar yaitu Sulawesi dan Papua serta gugusan pulau kecil yang terdiri dari Kepulauan Banda Selatan, Kepulauan Sunda Kecil (Nusatenggara), Maluku dan Halmahera, memiliki tatanan tektonik dan kondisi geodinamika aktif. 

Di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo yang mengedepankan program Poros Maritim Nusantara, pembangunan kelautan nasional akan menjadi fokus utama. Karena itu, hasil penelitian potensi sumber daya laut dalam dan kondisi geodinamikanya diharapkan dapat berkontribusi bagi pembangunan kelautan nasional Indonesia. Utamanya pada Kawasan Timur Indonesia. 

Tatanan Tektonik Kawasan Timur Indonesia
Kawasan Timur Indonesia terbentuk melaui proses geologi yang sangat kompleks akibat dari konvergensi tiga lempeng utama yaitu Lempeng Benua Eurasia yang relatif stabil, Lempeng Samudera Pasifik yang bergerak relatif ke barat, dan Lempeng Benua Australia yang bergerak relatif ke utara. Pergerakan Lempeng Eurasia sejak 100 juta tahun yang lalu hingga sekarang telah mengalami perputaran searah jarum jam. Pergerakan mengarah ke utara pada zaman Kenozoikum terlihat dengan ditemukannya liniasi magnetik lantai samudera (seafloor magnetic lineations) di selatan Samudera Hindia (Daly et al., 1987). 
Pada Kala Miosen (23-5 juta tahun lalu), Kawasan Timur Indonesia mulai menunjukkan bentuk sebagai hasil interaksi tiga lempeng utama dengan peristiwa geologi yang terjadi berupa terbentuknya zona bukaan dan pembentukan ofiolit Neogen di utara Timor dalam lingkungan punggungan tengah samudera; serta ofiolit Neogen di bagian barat Seram terbentuk dalam konteks busur belakang. Pada Miosen Awal, terjadi tabrakan miring antara Lempeng Australia dan Lempeng Pasifik, Filipina, dan Carolina membentuk sesar-sesar mendatar sinistral dan menyebabkan terfragmentasinya bagian Kepala Burung Papua, menghasilkan beberapa lempeng mikrokontinen Australia (Lee & Lawver, 1995; Hall, 2002; Permana, 2002).

Pada akhir Miosen ditandai dengan rotasi berlawanan arah jarum jam dari Pulau Seram menempati posisinya sekarang diikuti oleh obduksi Ofiolit dan pemalihan pada lempeng mikro Seram. Pada Kala Pliosen (5-2 juta tahun yang lalu), terjadi penunjaman ke utara dari kerak benua Australia dan ditandai oleh aktivitas gunungapi di sekitar busur Banda Selatan, Buru, dan Seram. Pada Kala Resen atau kondisi saat sekarang,  Lempeng Pasifik bergeser ke arah barat-barat daya dengan kecepatan 95-100 mm pertahun, sementara Lempeng Australia bergerak ke arah utara-timur laut dengan kecepatan 72 mm pertahun (Benes & Scot, 1994; Hall, 2002; Wilson, 2002; Permana, 2002).

Potensi Sumber Daya Laut Dalam
Sumber daya laut dalam yang terkait dengan kondisi geodinamika aktif Kawasan Timur Indonesia adalah keterdapatan gunungapi bawah laut dan aktivitas hidrotermal. Tatanan tektonik yang memicu pembentukan gunungapi bawah laut dan aktivitas hidrotermal di Kawasan Timur Indonesia adalah adanya pola subduksi di bagian selatan dan akibat dari tumbukan ganda busur kepulauan (double-arc collision) di bagian utara, sekitar Lengan Timur Sulawesi dan Halmahera, yaitu tumbukan antara Lempeng Laut Sulawesi dan Lempeng Laut Maluku. 

Potensi gunungapi bawah laut dan aktivitas hidrotermal di perairan Kawasan Timur Indonesia adalah sangat besar yang telah dibuktikan dengan ditemukannya Kompleks Gunungapi Bawah Laut Komba di sekitar Laut Flores-Wetar dalam Ekspedisi Bandamin kerjasama riset kelautan Indonesia-Jerman (Sarmili et al., 2003) dan aktivitas hidrotermal di sekitar Gunung Banua Wuhu dan Gunung Kawio di perairan Sangihe-Talaud melalui Ekspedisi IASSHA (Indonesia Australia Survey for Submarine Hydrothermal Activity kerjasama riset kelautan Indonesia-Australia pada tahun 2003 (Permana et al., 2003). Pada tahun 2010, Ekspedisi kelautan di perairan Sangihe-Talaud dipetakan kembali menggunakan teknologi Multibeam Echosounder beresolusi tinggi dan observasi bawah laut menggunakan Remotely Operated Vehicles (ROV) bertajuk Ekspedisi Index-Satal kerjasama lintas institusi riset kelautan Indonesia yang dipimpin oleh KKP dengan NOAA Amerika Serikat.

Dalam Ekspedisi Index-Satal 2010 ini, telah dilakukan pemetaan dasar laut menggunakan kapal Okeanos Explorer milik NOAA yang dilengkapi dengan peralatan Multibeam Echosounder Kongsberg Simrad EM302 untuk pemetaan dasar laut dalam. Peralatan ini dapat merekam data kedalaman laut hingga mencapai 7000 meter, menampilkan fitur dasar laut beresolusi tinggi (30 arcsecond), dan berhasil 2 memetakan + 38.549 km perairan laut dalam di sekitar kawasan Perairan Sangihe – Talaud, serta berhasil menemukan dan merekam gambar berdefinisi tinggi (high definition camera) dari gunungapi bawah laut Kawio Barat (Triarso et al., 2010) menggunakan ROV.

Berdasarkan hasil dredging sampel batuan Ekspedisi IASSHA 2003 (Permana et al., 2012), batuan Perairan Sangihe-Talaud berpotensi mengandung mineral dasar laut yang bernilai ekonomis tinggi, seperti mineral oksida logam.

(Rainer Arief Troa - Peneliti Puslitbang Sumber Daya Laut dan Pesisir)/Hdh


OLEH: BRSDMKKP

Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM) melalui Balai Riset dan Observasi Laut (BROL) melaksanakan Workshop INDESO (Infrastructure Development of Space Oceanography). Kegiatan dilaksanakan pada Selasa, 3 Oktober 2017 hingga Kamis 5 Oktober 2017 di Bali, dengan mengusung tema “toward interdisciplinary stakeholder’s network for better marine resources management”

INDESO merupakan pusat prakiraan dan pengelolaan sumber daya laut yang dapat memberikan prediksi perubahan-perubahan pada sumber daya perikanan dan ekosistem pesisir di Indonesia.
Komponen utama dari proyek INDESO meliputi:
(1) ocean numerical model,
(2) Central information system, dan
(3) stasiun bumi penerima data satelit radar di Perancak, Bali. Dari tiga

komponen tersebut terlahirlah tujuh aplikasi handal yang meliputi:
(1) memerangi penangkapan ikan ilegal (Illegal Fishing),
(2) memantau tumpahan minyak,
(3) mengelola sumber daya perikanan kita – pemantauan persediaan ikan,
(4) pengelolaan kawasan pesisir terintegrasi dan pemantauan hutan bakau,
(5) pemetaan kawasan budidaya udang,
(6) pengembangan budidaya rumput laut, dan
(7) memantau dan melindungi kawasan terumbu karang.

Aplikasi yang dihasilkan dari INDESO tersebut telah dimanfaatkan oleh pengguna (stakeholders) yang meliputi:
TNI Angkatan Laut,
Badan Keamanan Laut (BAKAMLA),
Satgas 115,
Ditjen Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP), Ditjen Pengelolaan Ruang Laut (PRL), Pemerintah Daerah,
dan Universitas.

Selain menghasilkan 7 aplikasi peningkatan sumber daya manusia kelautan dan perikanan telah dilakukan juga oleh INDESO.
Adapun peningkatan sumber daya manusia (capacity building) yang telah dilakukan meliputi:
(1) Short training bagi sebanyak 26 orang diikuti oleh 15 PNS dan 11 orang tim Project INDESO,
(2) research partnership yang dilaksanakan oleh 10 orang PNS KKP,
(3) pendidikan master degree dilaksanakan oleh 4 orang staf,
(4) pendidikan Ph.D degree dilaksanakan oleh 9 orang staf.

Kegiatan yang dibuka oleh Kepala Pusat Riset Kelautan ini diadakan dengan tujuan memberikan informasi kepada pengguna dan pengambil keputusan mengenai produk aplikasi yang telah dihasilkan melalui proyek INDESO, sehingga pemanfaatannya diharapkan akan lebih baik dan berguna. Workshop juga diharapkan dapat memberikan wawasan yang lengkap mengenai tujuh aplikasi INDESO yang telah dihasilkan. Dalam kegiatan dimaksud diharapkan timbul diskusi mengenai setiap aplikasi INDESO secara detail sesuai dengan keperlukan pengguna (stakeholders).

Workshop yang dihadiri oleh 125 peserta ini dihadiri oleh perwakilan eselon I lingkup KKP, KEMENRISTEKDIKTI, KEMENKOMAR, KLHK, BMKG, TNBB, PU, Bappenas, Kementerian Keuangan, BAKAMLA, LAPAN, serta dari kalangan akademisi (CRESOS, Universitas Udayana, dan Universitas Warmadewa), pemerintah daerah, World Bank, ATLI, dan LSM (WWF, CI Indonesia, dan CTC), serta pemerintah perancis (AFD dan CLS).

Oleh: BRSDMKKP




Antilin: Reagen Penguji (test Kit) Residu Formalin Pada Makanan
Formaldehyde adalah  bahan yang digunakan untuk industri dan dalam bentuk cair juga dikenal  sebagai formalin, umum digunakan sebagai pengawet. Sangat berbahaya bagi  kesehatan manusia, formalin sering disalah gunakan sebagai pengawet  makanan, seperti mie, tahu, ikan dan bakso.     
Residu formalin pada produk pangan sulit dideteksi secara inderawi. Invensi ini berupa alat penguji (test kit) kualitatif yang praktis menggunakan larutan campuran pararosanilin dengan sulfit jenuh pada suasana asam.  

Alat penguji ini sama sensitifnya dengan  reagen penguji komersial dan dapat mendeteksi adanya formalin pada  makanan dalam bentuk padat atau cair dengan batas deteksi minimal 2 ppm.  Hasil akhir akan terlihat dengan adanya perubahan warna pada larutan  penguji.                                          
Perspektif  

Kemudahan dan kecepatan dalam deteksi  bahan berbahaya pada makanan akan meningkatkan kepercayaan konsumen akan  produk yang dikonsumsinya, melindungi masyarakat sekaligus membatasi  penggunaan bahan berbahaya tersebut pada makanan lainnya.  

Keunggulan inovasi  
Dapat diaplikasikan untuk semua jenis makanan padat maupun cair Sensitif, batas deteksi minimal rendah Praktis dan mudah digunakan Hasil deteksi cepat didapat Hasil deteksi dengan mudah dapat dilihat Murah sehingga biaya pengujian tidak membebani harga produk  Potensi aplikasi   Industri makanan tradisional/modern atau pihak-pihak yang membutuhkan  alat yang praktis, murah dan cepat untuk mendeteksi kandungan formalin  pada bahan padat ataupun cair, terutama pada makanan mentah ataupun  matang. 

 Inovator   Nama:Ir. Farida Ariyani, MSc; Dra. J. Tri Murtini, MS; Drs. Ikna Suyatna Djalil, MS; Dra. Ninoek Indriati; Rudi Riyanto 




Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Gambar tema oleh merrymoonmary. Diberdayakan oleh Blogger.