Latest Post

Teknologi Penangkapan Ikan Berkelanjutan
Setelah alat tangkap tersebut diketahui kemungkinan dampaknya terhadap lingkungan, maka alat tangkap tersebut ditinjau dari aspek sustainability atau keberlanjutan usaha penangkapan.  Beberapa kriteria yang digunakan untuk melihat tingkat keberlanjutan usaha penangkapan menurut Monintja (2000) adalah :
(1) Hasil tangkapan tidak melebihi Total Allowed Catch (TAC)
Jenis alat tangkap yang paling aman terhadap kelestarian sumberdaya didasarkan pada kemampuan tangkap yang dimiliki oleh masing-masing alat tangkap, sedangkan yang tergolong paling tidak aman terhadap kelestarian sumberdaya disebabkan karena pengoperasian alat tangkap ini tidak terkendali atau yang jumlahnya sangat banyak.

Perbandingan relatif dampak yang mungkin ditimbulkan dari operasi suatu alat tangkap terhadap kemungkinan terjadinya overfishing atau hasil tangkapan melebihi angka yang diperbolehkan untuk dimanfaatkan,  yaitu :
Handline karena pengoperasian alat tangkap ini paling aman terhadap kelestarian sumberdaya, karena dalam prinsip operasinya yang menangkap ikan satu demi satu, sehingga peluang terjadinya overfishing dalam operasi alat tangkap ini kecil. 

Rawai, bubu lego, bubu tanam dan gillnet dasar karena peluang  hasil tangkapan untuk melebihi TAC juga kecil dan tidak berbeda jauh dengan alat tangkap handline walaupun kemampuan tangkap alat tangkap ini sedikit lebih besar. 
Alat tangkap lainnya yang mempunyai kemampuan tangkap yang lebih tinggi, namun  unit penangkapan ini jumlahnya sedikit, maka dampaknya terhadap kelestarian sumberdaya diduga tidak terlalu besar.

(2) Konsumsi  BBM Rendah
Konsumsi BBM pada pengoperasian alat penangkapan ikan, terutama yang armadanya menggunakan mesin penggerak merupakan sesuatu hal yang tak dapat dihindari. Hal ini mengakibatkan biaya operasionalnya tinggi sehingga membutuhkan kemampuan manajemen pengelolaan usaha yang lebih baik untuk keberlanjutan usaha. Tingkat ketergantungan operasional antar alat tangkap ikan karang terhadap pasokan BBM paling rendah pada alat tangkap yang masih menggunakan tenaga penggerak dayung ataupun layar karena konsumsi BBM hanya diperuntukan terutama untuk penerangan.

(3) Secara hukum, legal
Seluruh alat penangkapan ikan dapat dioperasikan secara legal apabila semua persyaratan dan perijinan telah dipenuhi, dan tidak melanggar Undang2 yang sudah ditetapkan serta peraturan pemerintah atau keputusan presiden serta peraturan menteri dan lainnya yg berlaku.

(4) Jumlah investasi kecil
Jenis alat tangkap yang paling rendah investasinya  untuk dikembangkan memiliki peluang keberlanjutan usaha lebih baik bila dibandingkan dengan alat penangkapan ikan yang membutuhkan investasi besar/tinggi.

(5) Mempunyai pasar yang baik
Alat tangkap yang paling memiliki prospek pemasaran yang baik adalah alat penangkapan ikan  hasil tangkapannya dipasarkan dalam keadaan hidup atau masih dalam keadaan segar.  Prospek pemasarannya kurang baik ditunjukkan oleh alat penangkapan yang hasil tangkapannya memiliki kualitas rendah, baik jenis maupun mutunya.


[Inovasi Riset Perikanan] 
Biokonversi Limbah Organik Mendukung Pakan Ikan Mandiri 

Jakarta, 24/8. Komponen pakan menempati porsi tertinggi dalam budidaya ikan, berkisar hingga setidaknya 60% dari total biaya produksi. Untuk menurunkan biaya  pakan tersebut Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mendorong pemenuhan kebutuhan bahan baku lokal melalui Gerakan Pakan Ikan Mandiri (GERPARI). 

Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan, M. Zulficar Mochtar menyampaikan bahwa salah satu upaya riset mendukung GERPARI tersebut adalah inovasi riset penyediaan bahan baku pakan ikan alternatif dari maggot Black Soldier Fly (BSF) yang dihasilkan dari proses biokonversi limbah organik. 

“Inovasi riset ini merupakan sumbangan karya, kinerja, inovasi KKP kepada masyarakat, yang telah secara nyata memberikan kontribusi dan manfaat. Kami mendorong seluruh riset yang dilaksanakan di KKP bisa diaplikasikan, memberikan dampak dan perubahan yang baik. Ini menjadi inspirasi dan contoh bagaimana riset untuk ikut langsung menjawab persoalan yang ada di masyarakat”, ujarnya.
Inovasi ini merupakan hasil riset Dr. Melta Rini Fahmi - Peneliti Balai Riset Budidaya Ikan Hias yang telah dimulai sejak tahun 2005 yang lalu. Pada awalnya biokonversi dilakukan pada bungkil kelapa sawit. Namun seiring dengan meningkatnya kebutuhan untuk menghasilkan maggot, hal tersebut menyebabkan naiknya harga bungkil kelapa sawit, sehingga pada tahun 2008 riset biokonversi ini sempat tidak berlanjut. Namun mahalnya bungkil kelapa sawit justru membawa Melta untuk akrab dengan limbah organik dari rumah tangga dan restoran yang saat ini menjadi bahan baku utama riset biokonversi yang terus dikembangkannya. 

Berbeda dengan bungkil kelapa sawit, limbah rumah tangga akan selalu ada, dan proses biokonversi tidak hanya menghasilkan maggot dan pupuk, namun sekaligus menjawab permasalahan sampah di perkotaan.

“Sampah limbah organik tidak akan mengalami kekurangan bahan baku, selama masih ada aktifitas manusia di dunia, bahan baku tersebut akan tetap tersedia,” kata Melta. 

Maggot yang dihasilkan akan merombak, mengektrasi serta mengkonvensi nutrien yang masih tersimpan di dalam limbah organik sehingga akan didapatkan nutrien dalam bentuk yang baru, yakni pupuk organik dan maggot sendiri yang dimanfaatkan baik sebagai pakan ikan maupun bahan baku pakan ikan. Pada uji coba di Balai Riset Budidaya Ikan Hias, ikan koi yang diberi pakan maggot memijah 4 kali dalam periode yang sama dibanding dengan ikan yang diberi pakan pelet. 

Biokonversi menggunakan maggot memiliki keuntungan dapat dilaksanakan dengan investasi  yang rendah, dimana dalam memproduksi magot ini tidak membutuhkan air, listrik, bahan kimia, serta dapat menggunakan infrastruktur yang sederhana. 

Selain itu, pemanfaatan maggot ini juga sangat ramah lingkungan karena mampu mendegradasi limbah organik menjadi material nutrisi lainnya. Kemudian keuntungan lainnya adalah pengelolaan limbah dengan maggot ini dapat diperluas dalam skala industri seperti pemrosesan tepung maggot.

Tahapan biokonversi limbah dengan larva BSF ini disampaikan Melta dapat diterapkan dengan dengan mudah, bahkan telah banyak diaplikasikan oleh masyarakat luas. Telur BSF, yang dapat diperoleh di Balai Riset Budidaya Ikan Hias Depok, diletakkan pada limbah organik. Telur tersebut dalam 3 hari akan menjadi larva yang dalam 2 pekan berikutnya akan mengurai limbah yang dapat dipergunakan sebagai pupuk organik. 

Melta mencatat 150 gram telur BSF (Rp 8 ribu/gram) dapat mengurai 2 ton limbah organik dalam waktu 2 s.d. 3 pekan. Ini lebih cepat dari proses membuat pupuk kompos secara konvensional yang membutuhkan waktu tidak kurang dari 3 bulan. 

Proses biokonversi ini akan menghasilkan 220 s.d. 250 kg maggot dengan harga jual berkisar dari 15 s.d. 20 ribu rupiah per kilogram nya, serta 100 s.d. 150 kg pupuk organik dengan harga jual 1500 s.d. 2000 rupiah per kilogram. 

Proses biokonversi yang tidak hanya mengelola limbah organik namun juga menghasilkan nilai ekonomi ini diterapkan oleh Pemerintah Kota Depok. Ini turut memberikan kontribusi diperolehnya penghargaan Adipura oleh Kota Depok yang mengaplikasikan program biokonversi dengan menggunakan limbah organik secara massal. 

Melta menjelaskan,”Tahun 2017 ini, Balai Riset Budidaya Ikan Hias telah menggandeng Pemerintah Kota Depok untuk bekerjasama dalam program biokonversi secara massal dan sosialisasi menggunakan limbah makanan. Pada pilot project nantinya akan melibatkan Unit Pengelolaan Sampah (UPS) serta insectarium, dan membuat tepung serta bahan baku pakan formula.” 

Tahun mendatang, program biokonversi akan dikembangkan secara luas, dijelaskan Melta, ”Tahun 2018 nanti, program biokonversi akan mengaplikasikan pakan maggot untuk ikan konsumsi maupun ikan hias, dan tahun 2019, akan diproduksi dengan melakukan labeling ke berbagai jenis pakan ikan berbasis magot”. 

Dengan inovasi riset biokonversi limbah organik ini pada tanggal 17 Agustus 2017 lalu Melta mendapatkan penghargaan Satya Lencana Wira Karya - Presiden Republik Indonesia. Sebelumnya pada tahun 2009 telah mendapatkan pengakuan paten internasional dari World Intellectual Property Organization atas karyanya yang berjudul Production of Live Insect ‘Mini-Larvae’ and Use Thereof for Feeding Aquarium Fish, Alevins of Farm Fish and Pets. Adapun saat ini Melta sedang dalam proses mendaftarkan invensi ini ke Kementerian Hukum dan HAM untuk mendapatkan hak paten. 

Narasumber:
M. Zulficar Mochtar, Kepala BRSDM 
Dr. Idil Ardi, Kepala Balai Riset Budidaya Ikan Hias, Depok 
Dr. Melta Rini Fahmi, Balai Riset Budidaya Ikan Hias, Depok 

Informasi lebih lanjut : 
Subbag Humas, Sekretariat BRSDM 
Telp : (021) 3513300 ext : 6289/6696 
Hp : 0811 800 736 


#Menuju Negara Maritim yang Mandiri dan Berdaulat


Cara Budidaya Maggot Atau Belatung Untuk Pakan Ikan
Sebelum masuk ke cara budidaya maggot/belatung, mari kita terlebih dahulu untuk mengenal apa itu maggot/belatung. Penjelasan arti maggot adalah larva dari lalat yang tumbuh pada bahan organik yang membusuk. Berikut penjelasan lengkap dari wikipedia tentang pengertian maggot/belatung.

Belatung/maggot identik dengan sampah yang kotor. Mereka hidup di tempat-tempat dengan sampah organik. Bukan sampah plastik ya, hehe lalu apa si maggot atau belatung itu?.

Belatung atau bernga/berenga adalah larva dari lalat. Tempayak ini biasa ditemukan pada barang-barang yang membusuk seperti bangkai, buah, atau sayur-mayur yang rusak. Beberapa jenis belatung, seperti belatung lalat buah, bersifat merugikan; namun pada umumnya belatung berguna secara ekologis dalam proses dekomposisi bahan-bahan organik.

Maggot/belatung memiliki kadar protein tinggi yaitu sekitar 43% jika dalam keadaan utuh, sedangkan jika dijadikan pelet kadar protein antara 30-40%.

demikian penjelasan sederhana tentang maggot/belatung, mari kita mulai untuk memproduksi maggot/belatung.

Apa Bahan Utama Produksi Maggot itu?
Ada dua bahan yang dapat kita manfaatkan, yaitu ampas tahu dan makanan sisa seperti (nasi basi, sayuran basi dan lainya).
# Pertama, Budidaya maggot/belatung dengan bahan dasar ampas tahu
Mengapa ampas tahu?
Salah satu alasannya, selain untuk mengurangi pencemaran lingkungan, khususnya perairan, pada tepung ampas tahu masih terdapat kandungan gizi. Yaitu, protein (23,55 persen), lemak (5,54 persen), karbohidrat (26,92 persen), abu (17,03 persen), serat kasar (16,53 persen), dan air (10,43 persen).

Cara Budidaya Maggot Atau Belatung Untuk Pakan Ikan
Berikut Langkah – Langkah Budidaya Magot/Belatung dari ampas tahu
Alat Dan Bahan Yang Harus Dipersiapkan :
Ember/drum atau wadah yang lain
Ampas tahu 60 kg
Kotoran ayam, kambing atau sapi 30 kg
Air secukupnya
Pengaduk seperti kayu batangan ukuran proposional
Cara pembuatan :
Masukkan ampas tahu sebagai bahan utama kedalam ember, lalu tambahkan air bersih dan aduk hingga rata.
Tambahkan kotoran ayam, lalu tutup permukaannya dengan daun pisang kering agar lalat mau bertelur.

Tempatkan ember ditempat teduh dan terlindung dari air hujan dengan kondisi agak lembab namun tidak basah.
Setelah kira-kira 2-3 minggubelatung sudah siap dipanen.
Cara memanen maggot sangat sederhana, yaitu dengan campurkan air pada media kultur, lalu saring untuk memisahkan media kultur dari belatung. Belatung siap diberikan sebagai pakan lele. Untuk bahan baku media kultur sebanyak 100 kg kira-kira akan dihasilkan belatung 60 -70 kg.\

TEKNOLOGI PRODUKSI MAGGOT
Lalat Tentara
Tepung ikan merupakan salah satu sumber protein yang penting dalam formulasi pakan ikan.  Produksi tepung ikan di dunia saat ini berada pada fase stagnan yaitu kurang lebih 6,1 juta ton pertahun semenjak tahun 90-an.  Indonesia mengimport tepung dan minyak ikan lebih dari USD 200 juta pertahun.  Hal ini menjadi poin khusus dalam akuakultur terutama di Indonesia yaitu upaya mencari pengganti tepung ikan sebagai sumber protein pakan.  Fish Meal Replacement Research Program, merupakan topic penelitian yang sangat penting saat ini.  Salah satu pengganti tepung ikan telah ditemukan oleh Tim IRD (Lembaga Penelitian Perancis untuk pembangunan) dan BPPBIH (Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Ikan Hias) yaitu larva serangga Black Soldier Fly (Hermetia Illucens, Stratimydae, Diptera) yang lebih dikenal dengan istilah manggot.  Kandungan protein dan lemak manggot adalah 50 % dan 25 %.

Siklus Hidup Lalat Tentara
Produksi manggot sinergi dengan program “zero waste” karena organism ini dapat mencerna berbagai jenis sampah organic, salah satunya adalah bungkil kelapa sawit atau Palm Kernel Meal (PKM).  PKM merupakan by product (buangan) dari pabrik kelapa sawit.  Serangga ini tersebar secara luas di seluruh dunia dan belum pernah terdeteksi sebagai agen penyakit.  Soldier fly mengalami 4 stadia perkembangan yaitu :

telur     : berwarna kekuningan dan dapat ditemukan di celah-celah atau tumpukan substrat.
larva        : mempunyai 20-25 instar dalam perkembangannya, dengan ukuran mencapai 2 cm, aktif memakan makanan yang busuk. 

pupa         : bermigrasi ke tempat yang lebih lembab .
dewasa     : meletakkan telurnya di dekat sumber makanan larva.
Teknologi Produksi Maggot
Masukkan 3 kg PKM yang telah halus ke dalam tong, kemudian tambahkan 6 liter air, aduk hingga rata.
Tutup bagian atas medium dengan daun pisang.

Tutup tong dengan kawat untuk menghindari pemengsa, seperti : tikus dan burung.
Tempatkan bambu yang telah dibelah di bagian atas kawat untuk sirkulasi udara dalam tong.
Tutup tong dengan plastik terpal untuk melindungi media dari hujan dan evaporasi (penguapan) yang menyebabkan media kering.
Setelah dua minggu pindahkan media kultur ke dalam fiber yang ditutup dengan kain sehingga lalat tentara tidak bisa meletakkan telurnya lagi di media tersebut.
Maggot akan mencapai ukuran yang sama setelah 2 minggu.  Selanjutnya bisa dilakukan pemanenan.
Panen dilakukan dengan cara mencuci medium kultur di air mengalir.
Maggot yang telah bersih siap diberikan kepada ikan sebagai pakan atau disimpan dalam freezer untuk penyimpanan.
Sampai saat ini, pembudidaya perikanan memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap pakan pabrikan, kondisi ini dipicu oleh tidak adanya pakan alternatif yang dapat menggantikan pakan pabrikan. 
kadang kandungan nutrisinya tidak sesuai dengan pakan pabrikan.

salah satu alternatif pakan buatan adalah manggot atau sering disebut belatung, mitra hcs sekarang sudah ada beberapa pembudidaya lele yang menggunakan pakan buatan alami atau probiotik SOC.
Probiotik SOC merupakan kumpulan mikroorganisme pendukung pertumbuhan dan kesehatan semua makhluk hidup. Sementara itu, organik berarti pencapaian kumpulan mikroorganisme tersebut dihasilkan dari bahan dasar alami, tanpa melibatkan unsur kimia. Indonesia memiliki kekayaan alam yang berlimpah sehingga seharusnya menjadi salah satu pengembangan produk probiotik.

Probiotik organik adalah teknologi penyeimbang lingkungan hidup yang aman. Keunggulan apa saja yang di dapat pada sistem budi daya probiotik SOC organik? Biaya pakan pada budi daya lele dapat mencapai 60-70% dari keseluruhan total biaya produksi. Karena itu, setiap terjadi kenaikan harga pakan sangat mempengaruhi pembudidaya lele. Cara kerja probiotik SOC? Probiotik SOC bekerja dengan cara mengontrol perkembangan dan populasi mikroorganisme “jahat” sehingga menghasilkan lingkungan tumbuh yang optimal bagi mikroorganisme “baik”. Hingga akhirnya, mikroorganisme “baik” akan mendominasi dan membuat habitat yang nyaman bagi pertumbuhan makhluk hidup di lingkungan tersebut. Kandungan mikroorganisme yang terdapat dalam starterorganik probiotik miracle green diantaranya brachybacterium, basidiomycetes, dan lactobacillus.

Salah satu Bakteri Lactobacillus sama seperti yang terdapat dalam salah satu produk minuman kesehatan, yang sangat berguna untuk membantu pencernaan, dalam tubuh pun ini sangat berguna membantu memperlancar serapan nutrisi yang dibutuhkan oleh tumbuhan. Lain halnya dengan brachybacterium, bakteri yang berfungsi untuk menetralisir segala jenis polutan dan kemampuannya yang luar biasa sehingga mampu mengangkat unsur logam berat. Basidiomycetes adalah jenis fungi atau jamur yang tidak merugikan bagi host yang ditumpanginya, jamur jenis ini justru membantu ekosistem lingkungan. Kehadiran dan perannya dalam mengolah nutrisi yang diperlukan dan menumbuhkan tunas serta stabilisasi tanah sangat mengagumkan. • Kepadatan kolam lebih tinggi.

Umumnya semakin tinggi kepadatan kolam, semakin lambat laju pertumbuhannya namun, dengan adanya tekhnologi probiotik organik, asupan pakan alami probiotik organik dan azolla microphilla membuat laju pertumbuhannya tetap tinggi dan kondisinya sehat, pakan tersebut memiliki kandungan asam amino esensial yang tinggi • Serangan penyakit menurun dan kematian bibit rendah.
Pemberian pakan kombinasi pakan probiotik SOC, azolla microphylla, dan nutrisi yang terdapat dalam air dapat menjaga ikan tetap sehat serta menurunkan tingkat kematian menjadi sangat rendah (2-3%, bahkan ada yang bisa dibawah 2%) •

membuat pakan ikan
Lele Organik yang dihasilkan berkwalitas. Beberapa keunggulannya adalah bobot lele lebih padat, kesat, kenyal, dan tidak ada penyusutan bobot dan selain itu daging lele lebih gurih dan tidak hancur saat di goreng. Cara membuat pakan organik adalah sebagai berikut:

Alat dan bahan lain yang diperlukan :
Bahan :
»        Ember/drum apa sajalah sesuai
»        Ampas tahu / kedelai 50 kg
»        Tepung ikan /Ikan curah/asin 10 kg
»        Kotoran ayam 30 kg ( yang sudah pakai SOC )
»        Probiotik SOC

Cara buat :
Caranya masukkan ampas tahu sebagai bahan utama kedalam ember, lalu tambahkan air bersih dan aduk hingga rata.tambah SOC 10 tutup

Kemudian tambahkan Tepung Ikan dan kotoran ayam, lalu tutup permukaannya dengan daun pisang kering agar lalat black soldier fly mau bertelur.

Tempatkan ember ditempat teduh dan terlindung dari air hujan
Setelah kira-kira 2-3 minggu atau bisa saja kurang dari itu, belatung sudah siap dipanen.

Caranya
campurkan air pada media kultur, lalu saring untuk memisahkan media kultur dari belatung.
belatung siap diberikan sebagai pakan lele.
Untuk bahan baku media kultur sebanyak 100 kg kira-kira akan dihasilkan belatung 60 -70 kg.
Perhatikan, jangan menyimpan belatung segar terlalu lama karena bisa berubah menjadi lalat.
Dalam budidaya lele, maggot akan lebih efektif jika dicampur dengan tepung ikan, dengan perbandingan 1:1.

Pertumbuhan ikan lele bisa melambung sampai 2.9% per hari.
Pakan maggot memberikan percepatan tumbuh 2.5% tiap harinya, kemudian tepung ikan memberikan percepatan pertumbuhan 2% perharinya.

# Kedua, Budidaya Maggot Dari Makanan-makanan sisa
Untuk produksi maggot/belatung menggunakan makanan sisa tidak perlu banyak alat yang digunakan. Kita cukup menyediakan wadah seperti baskom dengan permukaan lebar. Masukan setiap sisa makanan yang tersisa kedalam wadah, biarkan wadah tetap terbuka agar lalat bisa masuk dan bertelur.
Budidaya jenis ini biasanya untuk memenuhi konsumsi pakan ikan dengan kolam yang masih sedikit. biasanya hanya dijadikan sampingan, bukan sebagai produksi ikan dalam jumlah besar.

Semoga bermanfaat


Bidang Ilmu Terkait
a. Ruang lingkup    
Metode penangkapan sebagai ilmu pengetahuan terapan sangat bergantung pada ilmu-ilmu dasar dan ilmu terapan lainnya seperti :
  • Marine ecology
  • Fish biology
  • Physics
  • Meteorology
  • Oceanography
  • Fishing gear materials
  • Fishing gear design
  • Fishing boat
  • Marine engine
  • Navigation
  • Fishing instrumentation and electronics

b. Perkembangan
          Dalam peradaban masyarakat primitif, diduga bahwa metode penangkapan ikan dimulai dari kebiasaan “hunting”, yang dilakukan tanpa alat atau menggunakan peralatan yang masih sangat sederhana.  Masyarakat primitif kemungkinan sudah mampu mengamati bahwa pada saat air laut pasang naik, ikan sering mendekati pantai sehingga dapat ditangkap dengan tangan, dilempari dengan batu, dipukul dengan kayu dan ditombak dengan tulang hewan atau batu yang tajam.  Kemudian dapat diamati pula bahwa waktu air laut surut, banyak ikan yang terperangkap di daerah-daerah dangkal atau pada tumpukan-tumpukan batu.  Di sinilah awal perkembangan metode menghadang dan memerangkap secara pasif.  Metode penangkapan ikan yang lebih aktif berkembang bersamaan dengan meningkatnya keterampilan manusia dalam membuat peralatan seperti panah, sumpit, alat penjepit dan pancing.

          Secara mendasar, perkembangan metode penangkapan ikan ditandai dengan perubahan-perubahan sebagai berikut :
(1)  Usaha penangkapan dari satuan ekor ke dalam jumlah yang besar (bulk fishing) yaitu dari sifat subsistance ke commercial fishing, terutama setelah diketemukannya serat sintetis yang memungkinkan pengembangan penangkapan ikan secara besar-besaran (bulk fishing).
(2)  Fishing groundmakin luas dari daerah coastal ke deep sea. Hal ini ditunjang oleh kemajuan teknologi perkapalan dan permesinan, yaitu dari rakit, perahu, kapal layar, kapal uap, kapal motor sampai penggunaan kapal-kapal besar yang dikawal oleh factory ship.
(3)  Tenaga manusia digantikan dengan tenaga mesin.  Kemajuan teknologi permesinan dan elektronika sangat memudahkan dalam menemukan, mengumpulkan dan menggiring ikan sampai tertangkap.


Peralatan elektronika yang penting dalam pengembangan metode penangkapan ikan antara lain :
  • Scanning sonar : alat yang digunakan untuk mendeteksi ikan secara horizontal dengan sudut 150 dan jarak jangkau 1600 m.
  • Multi beam scanning sonar : alat yang digunakan untuk mendeteksi gerombolan ikan dengan sudut 3600.
  • Echo sounder : alat yang digunakan untuk mendeteksi gerombolan ikan secara vertikal dengan sudut 200 dan jarak jangkau 3500 m.
  • Search light sonar : alat untuk mendeteksi gerombolan ikan dalam seluruh arah.
  • Net sonde : alat yang digunakan untuk memonitor kedalaman letak jaring.
  • Net recorder : alat yang digunakan untuk mengetahui kedudukan jaring dalam air.
  • Integrated fish finding console : merupakan gabungan dari echo sounder, search light sonar, echo scale expander, net recorder dan automatic course recorder.  Alat ini berfungsi untuk mengamati dan mengontrol operasi penangkapan ikan secara keseluruhan, yaitu mulai dari penemuan kelompok ikan, estimasi populasi, penurunan jaring sampai pengangkatan jaring.
  • Radio buoy : alat yang dipasang pada buoy sehingga dapat diketemukan kembali oleh kapal.
  • Radar reflector : alat yang dipasang pada rumpon (FAD) di laut bebas agar mudah ditemukan kembali.
  • Under water lamp : lampu yang dipasang dalam air untuk mengumpulkan ikan pada malam hari.
  • Artificial baits gun :  alat yang dapat menyebarkan umpan
Kadangkala faktor sosial dan politis menjadi penentu pada penerapan metode penangkapan, contohnya alat tangkap trawl di Indonesia yang melakukan penangkapan ikan di perairan padat dengan nelayan tradisional sehingga menimbulkan ketegangan sosial, sehingga akhirnya trawl tersebut dilarang beroperasi.  Metode penangkapan ikan yang membahayakan kelestarian stok populasi ikan juga dilarang, antara lain :  penggunaan bahan peledak, bahan pembius ikan.


Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Gambar tema oleh merrymoonmary. Diberdayakan oleh Blogger.